Bosan Bersekolah Boleh, tapi Jangan Sampe Bosen Belajar



Resensi Buku “Sekolah itu Candu”
Lembaga Pendidikan yang Tidak Lagi Mendidik
Oleh: Dara Nuzzul Ramadhan



Judul Buku: Sekolah itu Candu
Nama Pengarang: Roem Topatimasang
Nama Penerbit: INSISTPress
Kota Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2010
Cetakan: ketiga, Juli 2010
Jumlah Halaman :  i-xx + 178 halaman
ISBN: 979-3457-85-6


Jadikanlah menulis itu seperti bernapas, sebuah kebiasaan, jika kita bernapas perasaan lega akan muncul, sebaliknya kegelisahan akan datang ketika kita tidak bernapas. Kurang lebih kata-kata tersebut adalah kata-kata yang saya dengar tempo hari saat berkumpul dengan rekan-rekan saya di Lembaga Pers Mahasiswa Sketsa. Seakan sependapat dengan kutipan di atas, Roem Topatimasang dalam buku makarnya yang berjudul “Sekolah itu Candu” mencurahkan kegelisahannya tentang dunia pendidikan yang semakin absurd, menurutnya.
Awalnya ia tidak berniat membuat buku. Tulisan yang ada di buku ini hanya coretan-coretan kegelisahan yang ia jadikan pengantar dalam diskusi, saat dirinya masih menyandang status sebagai mahasiswa. Akan tetapi, ketika kerabat dekatnya membaca coretan-coretan tersebut, respon yang dihasilkan oleh mereka membuat Roem penasaran karena mereka tertawa terpingkal-pingkal, tersenyum-senyum, sampai geleng-geleng kepala. Setelah Roem menemukan apa yang membuat kerabatnya tertawa, ia akhirnya berniat menyunting dan menyusun kembali tulisan-tulisan itu agar dapat membuat orang-orang lainnya tersenyum dan tertawa.
Sekolah itu Candu adalah buku yang menunjukan kita tentang realita yang terjadi di arena pendidikan, sekaligus menjadi buku yang mampu menampar kita agar segera sadar bahwa sekolah yang ada di masa ini sudah bukan lagi sekolah pada hakikatnya.
            Sekolah pada dasarnya berfungsi menggarap tiga wilayah kepribadian manusia, yaitu membentuk watak dan sikap, mengembangkan pengetahuan serta melatih keterampilan. Namun, pada kenyataannya masih banyak anak-anak yang harus mengikuti kursus di luar jam sekolah, anak-anak yang ditolak oleh perguruan tinggi, anak-anak yang gantung diri karena tidak lulus Ujian Nasional, masih banyak juga anak-anak yang berkelahi dan tawuran di jalan-jalan besar.
Sekolah yang awalnya oleh orang Yunani kuno disebut scolae, scola, skhole adalah istilah untuk menunjukan kegiatan mengisi waktu luang yang khusus digunakan untuk belajar, kini berubah maknanya menjadi tempat untuk mendapatkan penghormatan berupa gelar dan nilai akademik yang kebanyakan dikatrol untuk mengharumkan nama institusi.
Di buku ini diceritakan, pada zaman baheula atau di tempat-tempat terpencil, semua tempat dapat disebut sekolah, semua orang dapat belajar dimanapun, di kebun, di hutan, di sawah, bahkan di laut. Namun, semusim, dua musim berganti, modernitas merasuk ke ranah pendidikan, sekolah tidak lagi memiliki makna yang sama seperti dulu. Sekolah menjadi tempat yang subur untuk praktikan KKN. Komersialisasi pendidikan sudah tak terelakan lagi lewat buku yang wajib di beli, pakaian seragam yang diikuti dengan kebijakan yang menyeragamkan hampir segala hal, mulai dari cara berbicara dan berbahasa sampai ke isi hati dan perasaan, dan segala macam tetek-bengek yang membuat sekolah tidak lagi bersahabat untuk rakyat jelata.
Dalam buku yang tebalnya hampir 200 halaman ini kita diberi tahu mengenai sekolah yang tidak biasa dalam proses belajar mengajarnya, mulai dari sekolah yang tidak membutuhkan gedung, sekolah yang tanpa daftar mata pelajaran, sekolah yang kegiatannya dilakukan di gerbong kereta api bawah tanah, sampai sekolah yang tidak menyediakan surat keterangan seperti ijazah atau semacamnya. Untuk informasi lebih lanjut sila dicek sendiri dalam buku Sekolah itu Candu.
Sekolah-sekolah tersebut memang terdengar tidak lazim, tapi meski begitu, sekolah tersebut mampu menjalankan fungsinya untuk membentuk karakter, mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan. Akan tetapi, sayangnya masyarakat tidak terlalu berpihak kepada sekolah semacam itu, bahkan sekolah-sekolah tersebut terhitung sebagai sekolah yang tidak populer.
Sekolah-sekolah yang mempunyai kebijakan belajar selama berjam-jam di kelas, yang menuntut murid untuk mengikuti segala mata pelajaran, membawa buku berat, dan mengadakan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan mungkin adalah jenis sekolah yang populer di kalangan masyarakat. Padahal pada Global School Ranking yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2015 silam, Indonesia berada di posisi ke  69 dari 76 negara.
Seperti yang dikatakan dalam buku ini, sekolah memang telah terinternalisasikan sedemikian rupa dalam seluruh bagian kehidupan keseharian kita, melalui proses sejarah yang panjang dan lama, yang sedemikian berpengaruh terhadap kehidupan perseorangan dan perkauman kita. Sekolah memang menjadi hal yang diagung-agungkan, jika gagal atau putus sekolah kita akan merasa kehilangan peluang dan hak. Sehingga, meskipun banyak hal yang dapat disesali tentang sekolah, sekolah tetap berjaya, sekolah sudah seperti candu, sekolah itu candu. Akan tetapi nyatanya buku ini dapat menunjukan bahwa bersekolah belum tentu membuat kita dapat meraih kemapanan. Pada bab yang berjudul Jalan Sekolah kita akan menjumpai potret tentang  anak-anak SD yang berumur sekitar enam tahun ke atas, selama setidaknya enam tahun harus berjalan kaki kurang lebih 10 kilometer melalui jalan setapak, melewati belukar, menyusuri pematang sawah, meniti jembatan bambu, memanjat dan melompati pagar kebun, melintasi hutan, dua kali mendaki lereng gunung setinggi seratusan meter pada kemiringan 40-60ͦ untuk bersekolah karena lokasi sekolah jauh dari dusun mereka. Namun ketika lulus mereka tetap saja menjadi petani tradisional di dusunnya, meskipun ia melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Lain halnya dengan orang yang tidak bersekolah, nyatanya masih ada juga yang bisa sukses tanpa menempuh atau merampungkan sekolahnya.
Setelah membaca buku ini, menurut saya sekolah atau tidak sekolah bukan menjadi masalah, tetapi belajar atau tidak belajarlah yang menentukan seseorang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan atau tidak. Belajar atau tidak belajarlah yang membuat kita bisa mendapat penghormatan atau cemoohan. Sayangnya, masyarakat masih banyak beranggapan bahwa lembaga pendidikan yang disebut sekolah ini adalah lembaga tunggal yang mampu mencerdaskan seseorang dan kebanyakan juga menganggap bahwa sekolah adalah bekal agar ketika dewasa nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang diidamkan. Tidak salah, tetapi kurang tepat jika melihat maknanya berdasarkan sejarah. dibalik cover buku ini kita akan menemukan kalimat yang cukup keras yaitu  “Ya, sekolah memang mampu mencetak seorang anak manusia menjadi pejabat sekaligus penjahat”.
Hal menarik yang ada di buku ini adalah kita dipaksa berpikir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menohok yang disuguhkan hampir di setiap bab atau diakhir pembahasan. Selain itu, ilustrasi, dan potongan gambar atau berita yang termuat dalam buku cukup mendukung buku ini untuk menjadi bacaan yang sarkatis. Ditambah catatan kaki yang disertakan semakin membuat buku ini kaya akan informasi. Sayangnya saya rasa, penggunaan cover kurang menarik untuk dilihat dan bahasa yang ada di dalam buku ini kadang tidak enak dibaca.
Untuk keseluruhan, dari rentang 10-100 saya ingin memberi nilai 82 terhadap buku ini. buku ini termasuk bacaan yang dapat direkomendasikan, apalagi bagi anda yang menginginkan terjadinya revolusi dalam dunia pendidikan.